hubungan pikiran dan perasaan dengan Jiwa (Nafs)

Ditulis oleh: -
Ada yang menterjemahkan psikologi ke dalam bahasa Arab dengan ‘ilm an-nafs (ilmu jiwa), tetapi kalimat nafs tidak berarti jiwa. Dalam bahasa Indonesia, nafs diartikan sebagai dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik. Dalam terminologi tasawuf, nafs juga diartikan sebagai sesuatu yang melahirkan sifat tercela dan perilaku buruk.

Tetapi jika kembali kepada al-Qur’an, maka kalimat nafs mempunyai makna totalitas manusia (QS. 5 :32), juga bermakna sesuatu di dalam diri manusia yang menghasilkan tingkah laku (QS. 13 : 11) dan bermakna sisi dalam manusia yang berpotensi untuk kebaikan dan keburukan, tidak semata-mata buruk (QS. 91 : 7-8).

Sebagai makluk yang dimuliakan Tuhan,jiwa manusia memiliki potensi positif lebih kuat dibanding potensi negatifnya (Q/91:8), tetapi (menurut hadis Nabi) daya tarik keburukan lebih kuat dibanding daya tarik kebaikan. Oleh karena itu menurut al-Qur’an, manusia dituntut untuk menjaga kesucian nafs-nya dan tidak mengotorinya dengan perbuatan dosa dan sebagaimana firman Allah SWT:

Sesungguhnya berbahagialah orang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. ( QS. 91 : 9- 10)
Nafs itu bagaikan kamar yang luas dan dalam, tetapi ia hanya menampung apa-apa yang sudah tidak disadari (alam bawah sadar?). Walaupun manusia tidak lagi menyadari apa yang ada di dalam nafs-nya, tetapi Tuhan mengetahuinya (QS. 17 : 25). Apa yang sudah berada di bawah alam sadar itu dapat muncul dalam impian seseorang. Mimpi ada dua macam, yaitu simbol dari apa yang telah, sedang dan akan terjadi, disebut ra’yu, sementara impian yang berasal dari keresahan, atau dari perhatian manusia terhadap sesuatu ,menurut al-Qur’an disebut adhghatsu ahlam. (QS. 12 : 44).

0 komentar "hubungan pikiran dan perasaan dengan Jiwa (Nafs)", Baca atau Masukkan Komentar

Poskan Komentar